Prosesnya yang produk
Implementasi AI termasuk proyek paling overwhelming yang bisa diambil perusahaan. Hampir mustahil gagal juga, asal prosesnya benar.
Kedengarannya bertentangan. Luke Pierce nulis, setelah empat tahun dan lebih dari 90 implementasi automation dan AI, overwhelm dan kegagalan datang dari tempat yang sama: ngerjain proyek tanpa proses.
Dia founder Boom Automations. Mereka bangun custom AI operating system untuk perusahaan jasa $2M sampai operasi $100M ke atas. Artikelnya membeberkan cara mereka benar-benar menjalankan engagement, termasuk istilah internal yang jarang dipublikasikan provider lain.
Minggu lalu dia 14 konsultasi. Hampir semua percakapan polanya sama.
Founder atau CEO masuk call sudah yakin AI penting. Beberapa orang di tim pakai ChatGPT untuk email dan ringkasan. Enam bulan lalu ada yang dorong AI strategy; hasilnya dokumen, tidak ada yang dibangun. Perusahaan jalan di antara 15 dan 25 software. Kebenaran operasionalnya hidup di spreadsheet yang dijaga satu orang, CRM yang akurat kira-kira 60%, dan ingatan dua atau tiga karyawan yang tidak pernah bisa cuti bersamaan. Orang terbaik mereka habis 8 sampai 15 jam seminggu ngetik ulang data, kejar status, bikin ulang laporan yang sama.
Ditanya mau bangun apa, jawabannya hampir selalu: "Kami tidak tahu. Makanya kami ngobrol sama kamu."
Itu bukan masalah building. Itu masalah knowing-what-to-build. Yang rusak strukturnya: cara operasi menyimpan dan memindahkan informasi.