Skip to content
asyraf.aitulisan

Personal field journal · BSD

12 menit baca

Kamu tidak kekurangan informasi, kamu terlalu jarang menggunakannya.

Menambah informasi tidak otomatis menambah pemahaman. Hades merangkum tujuh prinsip untuk mengubah informasi menjadi pemahaman, lalu pemahaman menjadi aksi.

Potret Asyraf Duyshart

Asyraf Duyshart · BSD

Mode baca
Infografis Belajar lebih cepat, bukan lebih banyak: tujuh prinsip dari melakukan sampai mengajar.
Gbr. sampul — Belajar lebih cepat, bukan lebih banyak. Tujuh prinsip. Kamu, bukan konsumsi.

Setiap hari, kamu belajar sesuatu dari buku, percakapan, podcast, kesalahan, artikel, video, dan orang-orang di sekitar. Masalahnya, mengonsumsi lebih banyak informasi tidak otomatis berarti belajar lebih banyak.

Dua orang bisa menghabiskan 100 jam yang sama untuk mempelajari kemampuan yang sama, lalu keluar dengan hasil yang sama sekali berbeda.

Dari konsumsi ke aksi

Empat slide. Mengonsumsi bukan menguasai. Penimbun lawan praktisi. Gesekan dulu. Roda gila: eksekusi, gesekan, koneksi.

Hasil 1 — Ilusi pengetahuan
Hasil 2 — Penimbun vs praktisi
Hasil 3 — Rangkul gesekan
Hasil 4 — Roda gila pembelajaran

Orang pertama menonton semua tutorial, membaca semua buku, dan tetap kesulitan menggunakan apa yang sudah dipelajari. Orang kedua mulai membangun, membuat kesalahan, menerima feedback, lalu menjadi cukup mahir untuk mengubah kemampuan itu menjadi karier.

Perbedaannya tidak selalu kecerdasan. Sering kali, perbedaannya adalah cara mereka belajar.

Dalam The Principles of Learning Faster, Hades menjelaskan bahwa kemampuan belajar memperbaiki hampir semua kemampuan lain. Ketika cara belajarmu membaik, kamu bisa lebih cepat berkembang sebagai penulis, founder, desainer, engineer, investor, atau kreator.

Sekolah mengajarkan membaca, mengingat, mencatat, dan menghadapi ujian. Itu bukan berarti sekolah tidak berguna. Hanya saja, dunia nyata meminta hal lain: memahami dengan cepat, menerapkan pengetahuan, belajar dari feedback, dan menghubungkan ide baru dengan sesuatu yang sudah kamu pahami.

Ada tujuh prinsip untuk melakukannya.

I. Belajar dengan melakukan

Belajar punya jebakan yang terlihat sangat sopan.

Kamu menonton satu tutorial lagi. Membaca satu buku lagi. Menyimpan satu thread lagi. Mengikuti satu course lagi. Karena terus sibuk mengonsumsi informasi, semuanya terasa produktif.

Padahal mengetahui cara kerja sesuatu dan benar-benar mampu melakukannya adalah dua hal berbeda.

Kamu bisa membaca sepuluh buku tentang menulis dan tetap kesulitan menghasilkan artikel yang bagus.

Kamu bisa menonton lima puluh jam tutorial coding dan tetap tidak tahu cara membangun produk pertama.

Kamu bisa belajar sales selama berbulan-bulan, lalu freeze ketika pelanggan sungguhan berkata, "It's too expensive."

Pada titik tertentu, informasi tambahan berhenti menjadi jawaban. Kamu harus melakukan pekerjaannya.

Artikel pertama akan mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan buku menulis. Produk pertama akan membuka celah kemampuan yang tidak pernah diprediksi tutorial. Percakapan sales pertama akan memunculkan keberatan yang belum pernah kamu siapkan.

Aksi mengubah pengetahuan abstrak menjadi masalah nyata. Masalah nyata kemudian menunjukkan dengan brutal apa yang sebenarnya belum kamu pahami.

Saat tergoda mengonsumsi lebih banyak, tanyakan:

> Apa yang bisa kulakukan dengan pengetahuan yang sudah ada?

Kadang cara tercepat untuk terus belajar adalah berhenti merasa sedang belajar, lalu mulai bekerja.

II. Pendekkan *feedback loop*

Dua orang bisa berlatih selama durasi yang sama dan berkembang dengan kecepatan berbeda. Pembeda utamanya sering kali sederhana: seberapa cepat mereka mengetahui bahwa mereka salah.

Bayangkan dua orang sedang belajar menulis.

Orang pertama menghabiskan sebulan menulis sepuluh artikel tanpa memublikasikan satu pun.

Orang kedua menulis satu artikel, memublikasikannya, melihat bagian yang membuat pembaca berhenti, memperhatikan ide yang dibagikan, menerima feedback, lalu memakai informasi itu untuk menulis artikel berikutnya.

Setelah sepuluh artikel, keduanya memang menghasilkan jumlah tulisan yang sama. Namun, hanya satu yang sudah melewati sepuluh feedback loop.

Pola ini berlaku di banyak bidang. Founder meluncurkan fitur, mengamati perilaku pengguna, lalu memperbaikinya. Salesperson mendengar keberatan yang sama tiga kali dan mengubah pendekatannya. Developer merilis sesuatu, merusaknya, memperbaikinya, lalu memahami sistem dengan lebih baik.

Semakin pendek siklus itu, semakin cepat kamu memperbaiki kesalahan sebelum kesalahan tersebut berubah menjadi kebiasaan.

Mengulang kesalahan yang sama 100 kali tanpa feedback tidak membuatmu 100 kali lebih baik. Kamu cuma makin terampil melakukan kesalahan yang sama. Prestasi yang agak menyedihkan, kalau dipikir-pikir.

Jadi, jangan cuma bertanya berapa lama kamu berlatih. Tanyakan juga:

> Seberapa cepat aku bisa mengetahui bahwa aku salah?

Kecepatan belajar sering dibatasi oleh kecepatan feedback.

III. Berjuang sebelum mencari

Hampir setiap jawaban sekarang hanya berjarak beberapa detik.

Tidak tahu sesuatu? Cari di Google.

Tidak bisa memecahkan masalah? Tanya ChatGPT.

Kode tidak bekerja? Tempelkan ke Claude.

Semua alat itu sangat berguna. Namun, kemudahan tersebut juga memungkinkanmu melewati salah satu bagian paling berharga dalam belajar: berjuang menghadapi masalah dengan pikiran sendiri.

Bayangkan kamu sedang belajar coding dan menemukan error. Kamu langsung memasukkannya ke AI, menyalin solusi, lalu lanjut.

Masalahnya selesai. Pertanyaannya, apakah kamu belajar memecahkannya?

Cobalah struggle selama sepuluh menit sebelum mencari. Baca error-nya. Buat hipotesis. Ubah sesuatu. Rusak bagian lain. Coba lagi.

Kalaupun akhirnya meminta jawaban dari AI, sekarang kamu punya pemikiran sendiri untuk dibandingkan dengan solusi tersebut. Kamu bisa melihat letak kesalahan dalam cara berpikirmu.

Sebelum melihat jawaban, coba pecahkan masalahnya. Sebelum membaca analisis orang lain, bentuk pendapatmu sendiri. Sebelum meminta AI menjelaskan sesuatu, coba jelaskan dengan bahasamu sendiri.

Ini bukan sikap anti-tool. Tujuannya hanya memberi otak kesempatan bekerja sebelum kamu menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.

Mendapatkan jawaban lebih cepat tidak selalu berarti belajar lebih cepat. Kadang bagian yang paling ingin kamu hindari justru bagian yang paling banyak mengajarimu.

IV. Belajar *just in time*

Kesalahan umum saat mempelajari sesuatu adalah mencoba mempersiapkan diri untuk setiap kemungkinan masalah sebelum satu masalah pun benar-benar muncul.

Kamu ingin membangun produk. Maka kamu merasa harus mempelajari programming, design, marketing, sales, dan semua hal lain yang mungkin dibutuhkan nanti.

Enam bulan kemudian, kamu tahu sedikit tentang segalanya, tetapi belum membangun apa pun.

Pendekatan yang lebih cepat membalik urutannya. Mulai dari masalah, lalu pelajari apa yang dituntut oleh masalah itu.

Kalau sedang membangun produk pertama, kamu tidak perlu memahami semua hal tentang programming. Kamu hanya perlu tahu cukup banyak untuk membangun fitur berikutnya.

Kalau sedang belajar sales, kamu tidak perlu menghafal setiap framework. Bicaralah dengan sepuluh calon pelanggan. Pertanyaan dan keberatan mereka akan menunjukkan apa yang perlu diperbaiki.

Kalau sedang belajar menulis, jangan menghabiskan tiga bulan belajar writing sebelum publish. Terbitkan sesuatu, lihat kegagalannya, lalu pelajari apa yang diperlukan agar tulisan berikutnya lebih baik.

Dengan pendekatan just in time, belajar berhenti menjadi kegiatan menimbun informasi. Ia berubah menjadi respons terhadap masalah nyata.

Informasi juga lebih mudah dipahami ketika kamu langsung punya tempat untuk menggunakannya. Masalah, rupanya, cukup pandai menyusun kurikulum.

V. Utamakan *retrieval* daripada *recognition*

Ada tes sederhana untuk mengetahui seberapa banyak yang benar-benar kamu pelajari.

Baca satu bab buku. Tutup bukunya. Lalu jelaskan tiga ide paling penting tanpa melihat kembali.

Sesuatu yang tadi terasa sangat jelas mendadak sulit dijelaskan. Penyebabnya adalah recognition tidak sama dengan retrieval.

Ketika membaca ulang halaman, menonton ulang video, atau memeriksa catatan, semuanya terasa familier. Otak melihat sesuatu yang pernah ditemui dan berkata, "Ya, aku tahu ini."

Rasa familier bisa menciptakan ilusi pengetahuan. Informasinya terlihat akrab, tetapi belum tentu bisa kamu panggil kembali ketika dibutuhkan.

Tes sebenarnya dimulai ketika sumber informasi itu menghilang dan kamu harus menyusunnya kembali sendiri.

Setelah menyelesaikan buku, tulis apa yang masih kamu ingat. Setelah menonton materi, jelaskan idenya tanpa catatan. Setelah mempelajari konsep baru, coba ajarkan kepada orang lain.

Retrieval memperlihatkan celah yang disembunyikan konsumsi pasif. Setelah celah itu terlihat, kamu tahu bagian mana yang perlu dipelajari kembali.

Jangan mengukur pembelajaran dari seberapa familier sesuatu terasa. Otak gampang tersanjung oleh pengulangan.

VI. Hubungkan sebelum mengumpulkan

Mengumpulkan informasi mudah disalahartikan sebagai membangun pengetahuan.

Kamu menyelesaikan satu buku, menyimpan artikel lain, menandai thread, lalu menambahkan podcast ke antrean. Koleksi terus tumbuh. Pemahaman belum tentu ikut bergerak.

Pengetahuan menjadi berguna ketika terhubung dengan sesuatu yang sudah kamu pahami.

Belajar psychology membuat marketing lebih masuk akal. Belajar marketing membantumu melihat mengapa strategi sales tertentu bekerja. Belajar sales memperlihatkan mengapa beberapa produk menyebar sementara produk lain kesulitan. Belajar writing membuatmu lebih mampu menjelaskan semua hubungan itu.

Karena itulah dua orang bisa membaca buku yang sama dan mendapatkan nilai berbeda.

Orang pertama melihat tujuh ide menarik.

Orang kedua menghubungkan ide-ide itu dengan pengalaman, buku sebelumnya, percakapan, kesalahan, dan masalah yang sedang dihadapi.

Informasinya sama. Jumlah koneksinya berbeda.

Sedikit ide yang terhubung secara mendalam bisa jauh lebih berguna daripada ribuan fakta yang dikumpulkan tetapi tidak pernah digunakan.

VII. Biarkan pembelajaran bertumbuh majemuk

Belajar menjadi lebih mudah ketika kamu sudah belajar lebih banyak.

Pada awal memasuki suatu bidang, hampir semuanya terasa asing. Setiap konsep membutuhkan penjelasan. Setiap ide baru muncul sebagai potongan terisolasi yang harus dipaksa masuk ke ingatan.

Lama-kelamaan, keadaan berubah. Ide baru mulai menempel pada hal-hal yang sudah kamu pahami. Pengetahuan lama menyediakan tempat bagi pengetahuan baru untuk mendarat.

Itulah sebabnya founder berpengalaman kadang bisa memahami model bisnis baru dalam 20 menit, sementara pemula membutuhkan waktu berhari-hari.

Founder itu belum tentu lebih cerdas. Ia menghubungkan model tersebut dengan pola, kesalahan, percakapan, dan konsep yang sudah dimiliki.

Apa yang kamu pelajari hari ini tidak cuma memberi pengetahuan untuk hari ini. Ia membuat sesuatu yang kamu pelajari besok lebih mudah dipahami.

Dalam jangka panjang, perbedaannya menjadi besar. Kamu bukan cuma menambahkan satu ide setelah ide lain. Kamu membangun jaringan tempat setiap ide baru bisa membuat ide lama semakin berguna.

Informasi harus berakhir sebagai aksi

Belajar lebih cepat bukan soal memasukkan lebih banyak informasi ke kepala sampai kepala itu menyerupai gudang bookmark.

Intinya adalah mengubah informasi menjadi pemahaman, lalu pemahaman menjadi aksi.

Lakukan cukup lama dan proses belajar itu sendiri menjadi lebih mudah. Setiap kemampuan membuka jalan bagi kemampuan lain. Setiap masalah yang diselesaikan memberi pengalaman untuk masalah berikutnya. Setiap ide yang berguna menjadi fondasi bagi ide yang belum kamu temukan.

Hades menutup gagasannya dengan satu kesimpulan sederhana: ketika kamu semakin baik dalam belajar, kamu semakin baik dalam menjadi lebih baik.

Sumber: The Principles of Learning Faster